MENAFSIRKAN MAKNA "KESIA-SIAAN" DALAM KITAB PENGKHOTBAH MELALUI PENDEKATAN HERMENEUTIKA PERJANJIAN LAMA
Abstract
Kitab Pengkhotbah (Qohelet) dikenal luas karena penggunaan kata Ibrani hebel yang berulang kali diterjemahkan sebagai "kesia-siaan", "kesementaraan", atau "kefanaan", dan menjadi kata kunci teologis yang membingkai keseluruhan kitab. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan makna kesia-siaan dalam Kitab Pengkhotbah dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Perjanjian Lama, yang memperhatikan konteks historis, sastra, dan teologis teks. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research), yang mengkaji teks Pengkhotbah dalam bahasa sumber, literatur tafsir, serta kajian leksikal terhadap kata hebel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hebel tidak semata-mata bermakna "tidak berguna" atau "nihil" dalam pengertian nihilistik, melainkan lebih tepat dipahami sebagai gambaran tentang sifat fana, tidak dapat dipahami sepenuhnya, dan tidak dapat dikendalikan dari kehidupan manusia di bawah matahari. Pemahaman ini membawa implikasi teologis bahwa Pengkhotbah bukan mengajarkan sikap putus asa, melainkan mengajak pembaca untuk hidup dengan kesadaran akan keterbatasan manusia sambil tetap bersukacita dan takut akan Allah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan hermeneutika Perjanjian Lama yang memperhatikan genre sastra hikmat, konteks kanonik, dan latar belakang bahasa Ibrani sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman terhadap pesan teologis Kitab Pengkhotbah.


